Kedatangan Miyabi Picu Orang Tonton Fim Porno

Rencana mendatangkan bintang film porno Maria Ozawa alias Miyabi oleh Maxima Pictures, akan memicu aktivitas masyarakat Indonesia untuk melihat siapa sosok Miyabi, dengan cara mengakses film porno yang dibintanginya.

"Ketika terjadi pro kontra seperti maka masyarakat akan penasaran siapa miyabi. Jawabannya ya membuka internet dan melihat film pornonya," kata Seno Aji, salah satu senias dari Yogyakarta, Kamis, 1 Oktober 2009.

Cerita menculik Miyabi kata Seno adalah sebuah bentuk kreativitas dari seseorang untuk menghindari pro kontra di masyarakat dengan cara mengangkat sisi humanisnya Miyabi.

"Meski menganggkat sisi humanisnya, namun saya tidak setuju. Walaupun saya tidak bisa berbuat banyak karena ada lembaga dan Undang-Undang yang mengatur pelarangan sebuah film"tandasnya


Sutradara film yang terkenal namun enggan hidup di Jakarta ini mengungkapkan bahwa pembuatan sebuah film juga harus memperhatikan aspek norma, budaya yang ada di Indonesia, jangan sampai pembuatan sebuah film melukai norma yang ada di Indonesia baik secara tidak langsung.

"Miyabi sebagai bintang film porno di Jepang secara tidak langsung melukai norma yang ada di Indonesia. Lebih baik tidak menggunakan bintang Miyabi. Meski dirinya tak bisa melarang film itu diproduksi"tambahnya.


5 Fakta HIV/AIDS yang Perlu Diketahui Remaja!

Kasus HIV/AIDS di Indonesia makin mengkhawatirkan. Di Indonesia secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS mulai Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6.668 kasus, AIDS 16.964 kasus.

Proporsi kumulatif untuk kasus AIDS menurut golongan usia, antara lain di bawah usia satu tahun mencapai 135, usia satu hingga empat tahun mencapai 175, usia lima hingga empat belas tahun mencapai 88.

Usia lima belas hingga sembilan belas tahun mencapai 522, usia dua puluh hingga dua puluh sembilan tahun mencapai 8.567 kasus. Sedangkan usia 30 hingga 39 tahun mencapai 4.997, usia 40 hingga 49 tahun mencapai 1.427, usia 50 hingga 59 tahun mencapai 404, usia di atas 60 tahun mencapai 91, dan tak diketahui usia penderita mencapai 558 kasus.

Dari data ini, penderita usia remaja dan produktif cukup banyak. Ini mengkhawatirkan. Sebagian besar remaja menganggap HIV sebagai penyakit yang tak berbahaya. Lebih parah lagi, banyak sekali pemahaman salah terkait HIV/AIDS. Mari kita lihat 5 fakta mengenai HIV/AIDS yang wajib diketahui remaja:

1. HIV tidak pandang bulu
Sejak epidemi HIV dimulai 20 tahun lalu, stereotipe yang beredar di masyarakat tentang penderita HIV yaitu para gay, pemakai narkoba dan para pekerja seks komersial lah yang mendapat label tersebut. Faktanya, semua orang bisa terkena HIV, dari usia tua, muda , kaya, miskin, wanita, pria, maupun anak – anak dan dari berbagai macam profesi.

2. Seks oral tak seaman yang diipikir
Oral seks seringkali dianggap sebagai cara “aman” melakukan hubungan seksual. Faktanya, berdasar penelitian, cairan tubuh yang terinfeksi seperti semen dan sekresi vagina yang mengandung konsentrasi virus HIV tinggi bisa memasuki aliran darah melalui membran mukosa mulut.


3. Jangan cuma khawatir hamil
Banyak remaja percaya, satu – satunya risiko berhubungan seks tanpa proteksi adalah kehamilan. Karena itu dipakailah pil KB, oral seks dan ejakulasi di luar demi mencegah kehamilan. Padahal, banyak hal yang harus dikhawatirkan selain kehamilan, yakni adanya penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis, herpes, termasuk HIV yang bisa mengancam kehidupan.

4. Kadang orang tidak mengatakan sesungguhnya dan kita tidak tahu kenyataannya
Coba Anda pikir sejenak kalimat di atas. Berapa banyak orang yang mengakui bahwa mereka menderita HIV jika ditanya oleh pasangan barunya? Berapa banyak orang yang mengakui kehidupan seksual mereka ketika mereka baru mengenal seseorang? Berapa banyak orang yang benar – benar mengetahui status HIV mereka dan status kesehatan orang – orang yang bersama mereka sebelumnya? Sebuah pernyataan “ partner saya tidak mengidap HIV” hanya bisa diterima jika disertai dengan bukti nyata tes HIV negatif. Tanyalah dengan jelas status HIV mereka dan mintalah mereka melakukan tes sebagai bukti.

5. Belum ada obat untuk si pembunuh
Meski orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa hidup lebih lama berkat obat antiretroviral, obat ini tidak menyembuhkan. Kalau pun obat-obat ini melindungi dari infeksi opportunistik ini bukanlah “jalan pintas” dari infeksi HIV. Obat ini bahkan menyebabkan efek samping seperti diare, kelelahan berlebihan, kemerahan, mual dan muntah.

Jadi, sebaiknya pikirkanlah dahulu sebelum berbuat terlalu jauh dan merusak masa depan Anda, karena HIV merupakan “silent killer”, si pembunuh senyap yang jelas akan membuat Anda menyesal di masa depan karenanya.

oleh Dr. Intan Airlina Febiliawanti

Qoute Islam

Doa Islam